Hari Tanpa Motor

Hari Tanpa Motor

Seperti apa yang saya rasakan dan ekspektasi pada hari sebelumnya bahwa hari ini akan sangat menyenangkan. Pagi yang cerah terpaksa harus dinikmati dengan sedikitnya porsi tidur dimalam hari. Interview jam 9 Pagi di kantor Wilton Walson Indonesia yang membuat saya harus memulai aktivitas dari pagi hari. Lama rasanya tidak keluar rumah pada pagi hari dan berjalan kaki di kala harus menuju ke tempat tujuan dengan menggunakan kendaraan umum.
Sejujurnya, saya sangat kangen masa-masa itu. Segarnya udara pagi yang melapangkan hati, bunyinya kereta yang menggemborkan semangat, banyaknya orang yang lalu lalang dan aktivitas serta interaksi di dalamnya yang membuat kehidupan ini jadi amat menyenangkan. Dan hari ini saya merasakan hal itu kembali.
Berangkat menggunakan kemeja dan celana bahan yang cocok dipakai untuk interview dan dilapisi dengan jaket berwarna hijau, saya mengawali hari ini. Ketidakrutinan dan ketidakbiasaan hari ini dengan kondisi tanpa motor yang membuat saya semangat menjalani hari.
Interview kerja selesai dan membuat saya galau dihadapi dengan dua pilihan yang mungkin belom bisa saya tuliskan disini. Kelanjutan perjalanan dari tanjung barat menuju UI yang dilewati menggunakan kereta juga membuat saya sedikit lelah. Lamanya tidak menggunakan kereta ini membuat saya tidak tahu bahwa sekarang kereta ekonomi ini sangatlah jarang, kereta yang lewat kebanyakan commuter line. Untuk menuju UI dari stasiun tanjung barat, saya menghabiskan waktu 1,5 – 2 jam.
Sesampainya di kampus dan Perpustakaan Pusat menjadi tempat pertama yang saya tuju. Skripsi yang harus dikumpulkan menjadi alasan saya ke salah satu gedung termewah di UI. Sebelumnya saya melepaskan kostum interview saya dan kembali menjadi pribadi yang sesungguhnya yaitu dengan kaos dan celana jeans. Saya merasakan indahnya detik-detik di hari ini.
Plang sepeda, “Tekhnik” bukan “Teknik” HAHAHA
Sepeda kuning yang tadi saya gunakan untuk ke perpus pusat kembali saya gunakan untuk menuju fakultas teknik. Karena ini bukan masa kuliah, jadi bis kuning yang lewat sangat jarang. Dan di perjalanan menuju ke teknik saya bertemu dengan dua teman saya. Satu, Andreas yang sama naik sepeda tapi lawan arah dengan saya dan satu lagi, dahlan dengan teriakan khasnya yang memanggil nama saya dari kejauhan sambil mengendarai motornya. Saya tidak tahu mengapa hari ini seperti sosok pujangga yang sedang puitis, ya tapi beginilah hari ini berjalan.
Banyak urusan yang harus diselesaikan dikampus, seperti penyerahan skripsi, pengumpulan materi film angkatan metal 2008, bertemu dengan ruska yang akan menjadi salah satu client Nizarland Production, dan masih banyak lagi. Hari ini saya harus meninggalkan kampus tepat jam 5 sore karena harus les jerman di Goethe yang berada di Menteng pada jam 6.30 malam.
Perjalanan pulang dari fakultas teknik dilintasi dengan bis kuning yang menjadi ciri khas dari kampus saya ini. Ya, lagi-lagi pada saat itu saya merasakan bahwa saya masih maba, sedang membawa map yang berisi praktikum kimia dasar, semangat itu masih erat dan terasa pada diri saya. Padahal saya sudah menjadi mahasiswa yang sudah berumur di kampus dan harus secepatnya untuk di wisuda. Kemudian saya melanjutkan dengan naik commuter line untuk menuju ke stasiun gondangdia.
Oke, memang saya yang norak, tapi saya seperti berasa lagi travelling di luar kota ketika turun di stasiun gondangdia. Memang baru pertama kalinya saya kesini, turun dari kereta yang berhenti diatas jembatan layang membuat saya bisa menikmati indahnya pemandangan atap bangunan di sore hari. Selain itu, bentuk ubin dan bangunan stasiun gondangdia ini juga menurut saya sangat bagus bila dibandingkan dengan stasiun tebet, cawang, dan sebagainya.
Pemandangan dari St.Gondangdia (Gambar diambil menggunakan kamera BB)
Langkah kaki yang semangat menjadi bekal saya di hari ini, berjalan kaki dari stasiun menuju goethe yang berjarak kira-kira 100 meter. Sampai disana, saya menceritakan apa yang terjadi saat interview kerja tadi dan menanyakan pendapat tentang hal yang membuat saya masih merasa galau. Selain itu, entah kenapa hari ini saya sangat semangat dalam menjalani les ini. Dan alhamdulillahnya, ujian nulis (schreiben) pun saya bisa lalui dengan semangat optimis. Benar atau tidaknya urusan belakangan yang penting keyakinan terhadap hasil kerja yang telah dilaksanakan.
Pulang les, saya “nebeng” dengan teman saya yang bernama martin, dan juga salah satu teman perempuan kami yang bernama queency juga ikut dalam mobil itu. Ada kejadian yang lucu ketika ada orang yang tidak dikenal tiba-tiba membuka pintu mobil dan bilang “eh” karena salah bahwa itu bukan mobil orang yang ia kenal. Kita langsung ketawa dengan puasnya, bahkan sempat membuka pintu mobil agar orang itu mendengar tertawaan kami. Perjalanan dengan martin hanya berakhir sampai terminal kampung melayu dan kemudian dilanjutkan dengan naik mikrolet untuk menuju ke rumah.
Beberapa pelajaran yang saya dapatkan hari ini:
1. Cobalah sesekali keluar dari rutinitas dan zona nyaman, ini akan menjadi menyenangkan dan memberi kita energi baru.
2. Hidup ini sangat indah untuk dinikmati setiap detiknya.
3. Selalu mencoba untuk bersyukur atas nikmat apa yang telah diberi oleh Allah SWT. Saya yakin, ketika nanti motor saya sudah kembali bisa berjalan dan saya bisa menggunakan motor itu lagi, pasti akan ada perasaan gembira seperti memiliki motor baru. Karena saya hari ini merasakan “oh ternyata, selama ini saya punya motor dan bisa kesana-sini dengan gampang itu merupakan nikmat tersendiri loh”
Selamat menikmati hidup anda. Inget, hidup cuma sekali. Lakukan apa yang kalian senangi. See you 🙂
NIZARLAND
“Where The Land Inspires The World”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enter your keyword