[Review] Madre The Movie

[Review] Madre The Movie

Ini adalah salah satu film Indonesia yang gue tunggu-tunggu. Gue bukan pembaca novel. Jadi gak tau sama sekali apa ceritanya. Yang gue tau cuma ini filmnya berceritakan tentang “roti” dan “blog”. Dua kata itu yang sebenernya membuat gue penasaran sama film ini.
Madre menceritakan tentang seorang pemuda bernama Tansen yang memiliki kehidupan yang sangat bebas. Dia hobi surfing dan berbagi pengalamannya melalui blog. Sampai suatu saat dia mendapatkan warisan dari kakeknya. Sebuah kunci yang merubah hidup dia. Ternyata kunci itu merupakan kunci untuk membuka kulkas di toko roti tua yang berada di Bandung. Nama toko roti tersebut Tan De Bakker. Ketika dibuka, ada setoples adonan roti yang ternyata itulah yang diwariskan sang kakek untuk tansen. Adonan roti yang disebut Madre. Untuk kisah selanjutnya silahkan tonton film ini di bioskop. Mari mulai untuk menonton film Indonesia di bioskop sebagai bukti konkrit anda memajukan perfilman Indonesia.
Menurut gue, film ini ceritanya sih oke, tapi penyutradaraannya saja yang gak oke. Packagingnya gak bagus. Ketika gue nonton, gue gak bisa mendapatkan emosi yang “smooth”. Emosi yang didapatkan selalu terpatah-patah dan tidak membentuk track yang jelas. Hmmm apa ya? Jadi semacam cast nya disuruh “ayo akting sedih!”, “ayo bahagia!”, “ayo ketawa!”. Jadi abis emosinya bahagia, tiba-tiba bisa jadi langsung sedih dan tanpa ada transisi emosi yang jelas diantaranya.
Banyak juga scene dimana cast atau figuran terlihat setengah ketawa, penggarapan karakternya kurang kuat. Dan vino pun, ya seperti vino-vino di film lainnya yang selengean dan ya kayak gitu. Nothing special. Banyak adengan nabrak sama orang yang sangat terlihat dibuat-buat dan sangat ga penting.
Seperti yang  gue bilang sebelumnya, gue belum pernah membaca novelnya, jadi tidak tahu apakah cerita ini bergenre komedi atau tidak. But honestly, the movie is trying to hard to be funny. Lawakannya tuh gak natural. Gak bikin gue ketawa sampai ngakak juga. Kayaknya kalo emang dibikin lebih serius, nilai-nilai dari film ini justru akan lebih nyampe.
Dari segi cerita pun ya ketebak banget. Gue tau abis ini akan ngapain. Abis ini ngapain, ketebak aja. Standar. Gak ada bagian yang gue berfikir “wanjir! ternyata kok gini ya?”. Dan pas endingnya pun “lah? udah selesai?”. Dan bukan hanya gue yang berfikir kayak gitu, karena pada saat nonton pun, di ending gue denger banyak yang reflek berkata “lah?”. Menandakan mereka merasakan sama dengan apa yang gue rasakan.
Dari segi pengambilan gambar sih biasa aja. Tapi objek gambar yang diambil emang bagus. Toko roti yang tua, suasana kota bandung, bali, ke-vintage-an film ini menambah nilai positif di film ini. Dan Laura Basuki dengan segala macam pakaiannya sangat terlihat cantik di film ini sehingga gue gak bosen-bosen untuk menunggu scene dia yang selanjutnya. hehehe
Soundtrack yang dibuat juga menurut gue oke, gue suka soundtrack instrumental yang diputer. Jadi bikin toko roti dan ceritanya terlihat semakin istimewa dan unik. Dan “Jodoh Pasti Bertemu” nya afgan juga still not bad untuk menambah aransemen di film ini. Tapi secara keseluruhan gue kurang begitu puas dengan film ini.
Salah satu dialog yang gue suka di film ini
“Hidup jangan coba-coba. Kamu harus serius. Kalo enggak nanti hidup kamu dicoba terus.”
Rate: 4/10
NIZARLAND
“Where The Land Inspires The World”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enter your keyword