[Review] 9 Summers 10 Autumns The Movie

[Review] 9 Summers 10 Autumns The Movie

Saat tahun 2011, gue sudah dipertemukan dengan Novel yang satu ini. 9 Summers 10 Autums. Secara pribadi, gue bukan pembaca novel. Tapi gue emang suka dengan buku yang berhubungan dengan ‘Self Development’. Ditambah lagi, pertama kali gue tau novel ini dari penulisnya langsung. Mas Iwan Setyawan pernah bicara di depan gue dan ratusan orang lainnya dan berbagi tentang kisah hidupnya itu. Mulai darisana lah, gue jatuh cinta sama yang namanya 9 Summers 10 Autumns.
Denger novel ini akan di-film-in, gue seneng banget. Ditambah tau, sutradaranya itu mas Ifa Isfansyah. Senengnya jadi berkali-kali lipat, karena gue yakin filmnya akan oke.
9 Summers 10 Autumns ini simpelnya, berceritakan tentang anak supir angkot yang tinggal di kota Malang, dia berhasil menjadi direktur salah satu perusahaan di New York. Makanya slogan, atau tagline buku ini “From Apple to Big Apple”.
Cerita dari film ini sangatlah simpel dan mudah dinikmati. Kesederhanaan film ini tidaklah membuat film ini menjadi “murahan” dan “begitu aja”. Karena, dibalik ceritanya yang simpel, gue suka dengan pengambilan gambar di film ini. Buat Gandang Warah dan tim sebagai DOP nya yang telah merumuskan segala macem angle kamera, kalian keren banget. Salah satu keunggulan film ini dari pengambilan gambarnya. Dan juga tone warna yang dibuat oleh colourist membuat film ini menjadi lebih sederhana dan enak untuk di nikmati.
Emang sepertinya mas Ifa Isfansyah gak pernah gagal dalam setiap karyanya. Di film ini, dia berhasil menyajikan sesuatu yang tidak flat. Walaupun mungkin dari cerita begitu saja dan mudah ketebak, tetapi mas Ifa merumuskan film ini dengan alur maju  mundur, sehingga tidak begitu membosankan. Ditambah lagi, akting dari beberapa pemain yang menurut gue oke mulai dari Ihsan Tarore yang dari gaya jalannya aja mirip banget sama mas Iwan Setyawan dan juga Ibu dan Bapak yang diperankan oleh Alex Komang dan Dewi Irawan membuat film ini semakin berkualitas.
Film ini memang penuh dengan inspirasi dan motivasi. Tetapi hal itu tidak diperlihatkan secara langsung seperti rasanya “digurui” oleh film. Tapi dengan kesederhanaan setiap kisah di film ini, mampu membuat emosi terpancing dengan adanya lika-liku di kehidupan seorang Iwan Setyawan.
Buat yang belom nonton, coba deh tonton di bioskop. Ajak pacar, temen, atau bokap nyokap juga oke kok. Kalo bukan kita yang nonton Film Indonesia, siapa lagi? Dan pastinya film ini mudah, sederhana dan berkualitas untuk dinikmati. Selamat menonton 😉

Aku memang tidak bisa memilih masa kecilku, tapi masa depan itu hanya kita yang hanya bisa melukiskannya.
Film itu cuma dua jam, makanya segalanya dibikin cepat. Emang kamu mau hidup kamu kayak di film, cuma dua jam?
Rate: 8.2/10
NIZARLAND
“Where The Land Inspires The World”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enter your keyword