Spider-Man: Into Spider-Verse (2018)

Spider-Man: Into Spider-Verse (2018)

Spider-Man: Into Spider-Verse (2018)

Satu kalimat tentang film ini:
Dramatisasi berlebihan pada porsi yang pas

Spiderman? Tidak ada memori yang diingat lebih dari sekedar adegan Spiderman, yang sedang menggendong Marry Jane, sambil bergelayut dengan jaring laba-laba andalannya. Hanya itu saja. Itupun mungkin karena gambarnya yang tertempel di meja belajar lipat saya, ketika saya SMP hingga SMA. Selebihnya? Tentang cerita? Atau asal usul Peter Parker? Menyadari bahwa spiderman seorang juru foto saja, baru saya ketahui saat menonton filmnya tadi.

Sekosong itu ekspektasi menonton film ini. Hanya sedang liburan, dan kurang hiburan.

Cerita bisa dibilang hal terpenting dan mendasar dari sebuah film. Karena memang pada dasarnya film merupakan media untuk menyampaikan sebuah pesan melalui gagasan. Bermodalkan cerita yang sudah mewah, film ini berhasil membuat saya terpukau dan masuk di dalamnya. Bagaimana tidak? 117 menit disajikan film dengan cerita dari beberapa dimensi, dengan banyaknya elemen surprise di dalamnya. Menurut saya, Phil Lord dan Rodney Rothman sudah bekerja keras dan begitu dermawan dalam memberikan kejutan yang lagi, lagi dan lagi. Beruntungnya, film ini disutradarai oleh Bob Perscichetti, Peter Ramsey yang membantu Rodney Rothman dalam membangun cerita dengan suspense yang terjaga. Sehingga tidak ada momen bosan sedikitpun. Bahkan sampai akhir, tetap saja, perubahan pola terus terjadi dan membuat saya bertanya-tanya “ada kejutan apalagi setelah ini?”.

Jarang sekali saya suka dengan film superhero. Hanya blackpanther saja yang saya ingat sekarang. Mungkin bisa dibilang, Spider-verse ini menjadi salah satu film kartun superhero favorit saya. Akhirnya selain Hercules di tahun 1997, dan The Incredibles di tahun 2004, ada lagi film kartun superhero yang masuk dalam list film favorit, dengan rasa yang berbeda. Hanya sekedar menganalisa, mungkin salah satu alasannya saya suka dengan ketiga film diatas karena adanya kesamaan. Kesamaan dalam menampilkan keluarga sebagai bagian yang kuat dalam di dalam bercerita.

Film Spider-verse ini sangat multi-dimensional, diluar rasional (ya sewajarnya film superhero). Tetapi, menjahitnya kedalam cerita personal tentang keluarga, membuat film ini memiliki rasa yang cukup sentimentil. Salah satu adegan favorit saya, ketika Miles Morales (pemeran utama) lelah dan gelisah dengan “keajaiban” yang bertubi-tubi datang kedalam kehidupannya, rumah dan ayah menjadi tempat teraman dan ternyaman buat anak sekolah seumurnya. Oh iya, satu adegan ketika sang Ayah bercerita kepada Miles di balik pintu, hanya dengan melihat bayangan Miles yang bergerak maju mundur juga cukup emosional dan merupakan ide cemerlang yang patut diacungi jempol.

Pokoknya urusan cerita dan suspense, film ini tidak ada cela nya (paling tidak menurut pendapat pribadi saya).

Lalu bagaimana dengan spesial efek? Visual? Dan elemen andalan lain seperti film superhero pada umumnya. Sejujurnya, ketika melihat trailer di handphone sekitar 5 detik, saya langsung memencet tombol dan mengganti ke aplikasi lain. Tidak terlihat istimewanya pada beberapa detik tersebut. Akan tetapi, melihatnya di layar cinema yang besar, menikmatinya secara detail, WAAAAAAAH!!!! Entah saya yang norak, jarang nonton film kartun atau bagaimana, yang jelas tipe animasi dan treatment seperti ini baru saya liat di film Spider-verse ini. Three dimensional, sedikit seperti clay pada setiap character, namun background tetap terlihat seperti dua dimensi. Bingung bagaimana mendeskripsikannya, ya intinya mengcengangkan dan pastinya proses pembuatannya tidak mudah hahaha

Apa lagi ya? Cerita sudah. Visual sudah. Oh ya, dari segi visual, di luar animasinya, frame per frame dari film ini juga terlihat dipikirkan secara proper oleh orang yang memiliki taste visual yang menawan.

***

Saya rasa cukup. Film ini memberikan pesan personal kepada saya untuk “Believe in yourself, you have superpower that anyone can’t see. The power that can be used to make the world the better place”.

Selain itu, Miles juga mengalami kondisi dimana “oke dia mengalami sebuah ‘keajaiban’ atau ‘keberuntungan’, akan tetapi tanpa adanya kepercayaan diri yang tinggi serta latihan yang terus menerus, Miles tidak akan bisa melakukan apa yang menjadi misinya.

Terakhir, saran saya: jangan nonton trailernya kalau kamu mau mendapatkan kejutan satu demi satu di film ini.

Premis dari film ini:
Seorang pelajar biasa yang dikucilkan di sekolahnya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban dan memiliki kekuatan seperti Spiderman. Lalu apa yang dia lakukan? Bagaimana dia bisa se-keren spiderman sebelumnya? Bagaimana dia mengendalikan kekuatan supernya? Apa masalah yang terjadi? Apa hubungan antara Miles dan Peter Parker (spiderman di film sebelumnya)? Bagaimana cara mereka melindungi dunia?


Pertanyaan-pertanyaan diatas hanya bisa terjawab ketika kalian sudah nonton filmnya.

Oke saya rasa segitu aja. Semoga postingan ini bermanfaat. Assalamualaikum 🙂

#SokFahamFilm #FilmScience

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enter your keyword