Rumah Umi Tanpa Umi

Rumah Umi Tanpa Umi

Rumah Umi Tanpa Umi

Kamis, 30 November, jam 16.33. Tiba-tiba ada WhatsApp dari tante gue yang berisi “jang. umi meninggal”. Waktu terasa berhenti beberapa detik. Saat itu juga gue antara enggak percaya, tapi kayak sudah punya feeling. Mendadak merinding dan juga pastinya sedih. Pada saat itu gue lagi meeting dengan Mas Ipang dan beberapa temen yang lain. Tanpa panjang lebar gue langsung pamit, “Mas saya balik duluan ya! Nenek saya meninggal”. Hanya sekeder melihat ekspresi kaget mereka sekian detik, gue pun langsung ambil tas, dan langsung bergegas pulang ke rumah.

Sepanjang jalan, menggunakan motor, gue gabisa berhenti untuk gak nangis. Ya wajarlah ya. Ditinggal seorang nenek satu-satunya. I mean, dari lahir dua kakek gue sudah meninggal, cuma ada dua nenek, nenek dari bokap meninggal ketika umur gue mungkin sekitar 3-5 tahun. Jadi Nenek gue yang sering kita panggil dengan Umi ini cuma satu-satunya “Grandparents” yang gue punya. Sepanjang motor itu, gue inget apa yang udah Umi kasih dan berikan kepada gue. Begitu banyak. Sangat banyak. Dan juga kebayang, perjuangan dia yang bisa dibilang gak gampang. Di tahun 2011, Umi harus diamputasi bagian dari paha kanan ke bawah hingga beberapa tahun setelahnya sempet satu dua kali harus dirawat di rumah sakit karena penyakit diabetesnya itu.

Sesampainya di rumah, melihat banyak bangku ada di depan rumah, dipasangin terpal diatasnya, orang-orang berbaju hitam banyak yang datang, rasanya masih gak percaya. Tanpa sapa orang kiri kanan, gue langsung jalan lurus masuk ke kamar umi. Melihat umi hanya sedang berbaring lurus, dan sudah ditutup kain putih, gue tidak nangis. Hanya termenung melihat nenek yang kami cintai sudah melaksanakan tugasnya di dunia ini. Tepat di momen itu, gue sedih karena nenek gue satu-satunya, udah gak akan ada di kamar itu lagi. Di sisi lain, gue bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, karena telah mengabulkan salah datu doa yang selalu gue bacain di setiap selesai sholat. “Ya Allah, akhiri hayat hamba, mama hamba, umi hamba, kakak hamba dan calon istri hamba dengan husnul khotimah.

Mengetahui kalau umi meninggal hari kamis setelah Ashar (menurut islam, ashar adalah waktu pergantian hari, jadi umi terhitung meninggal di hari jumat), tepat di tanggal 12 robiul awal sama dengan tanggal wafatnya Rasulillah Muhammad S.A.W, dan mendengar cerita dari orang rumah kalau umi hanya tertidur pulas dan meninggal dunia, membuat gue ber-husnudzan kepada Allah bahwa umi di”angkat” di waktu dan dengan cara yang terbaik.

Kronologinya, beberapa menit sebelum meninggal, umi masih disuapin makan dan minta dikasih minum, dan kemudian dia terlelap tidur. Umi tidur di kasur sebelah kanan, tante gue tidur di sebelah kirinya sambil pijetin umi sembari meremin mata. Sedangkan nyokap tidur paralel deket kaki umi. Mereka yang di kamar hanya tertidur seperti khalayak biasa. Sampai ketika salah satu saudara masuk ke kamar umi dan teriak “Iyaaaa (panggilan umi, karena namanya sa’diyah), ini kayak umi enung waktu meninggal”. Mendengar itu nyokap dan tante gue langsung kaget dan panik. Dan ternyata benar, umi sudah meninggal dunia. Umi mengakhiri hayatnya tanpa tergesa-gesa, masa-masa kritis dan semacamnya. Semua proses seperti Allah mudahkan. Insya Allah umi diberikan taman dari taman surga di kuburnya dan dimasukan ke dalam surganya Allah.

Semua prosesi kita persiapkan satu per satu. Mulai pemandian jenazah, pengkafanan, sholat jenazah, hingga ke kuburan. Momen yang membuat gue gak kuat menahan air mata adalah ketika selesai sholat jenazah dan mengangkat kurung batang, gue gak kuat untuk memandang lurus ke depan. Hanya terlihat banyak kaki yang berbondong-bondong membantu mengangkat mayat umi. Sesampainya di luar mesjid dan masuk ambulance, gue baru ngeliat dengan jelas. Sebanyak itu kerabat umi yang ikut menyolatkan dan menguburkannya. Saudara yang udah lama gak ketemu, pada berdatangan dan ikut mengantarkan umi hingga ke liang lahat. Ya Allah, terima kasih atas penutupan terbaik yang engkau berikan kepada nenek hamba. Personally, gue ucapkan terima kasih kepada semua yang ikutan menyolatkan dan menguburkan umi. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian.

*************

Sa’diah bawazir. Menjadi salah satu nama besar dalam kehidupan gue dan keluarga, atau mungkin banyak orang lainnya. Di masa mudanya, umi mengajarkan kita untuk berhubungan baik dengan semua orang, melaksanakan kewajiban ibadah sebagai seorang muslim dam tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.

Baik, peduli dan punya banyak teman merupakan kata sifat yang representatif untuk menggambarkan siapa itu umi. Dari gue kecil, rumah gue selalu rame. Baik karena emang kita keluarga besar, yang tinggal serumah bisa sampai 20 orang. Dan juga karena banyak tamu yang sering datang dan berkunjung ketemu umi. Umi selalu bicara dengan teman dan keluarganya, enggak cuma dengan kata-kata dan pikirannya, tetapi juga dengan hatinya. Siapapun yang diajak ngobrol, dengannya, berasa banget hubungan keakraban dari setiap dialog dan tatapannya. Mungkin karena beginilah role model kita, jadi kita sekeluarga emang tipikal orang yang suka banget main atau bergaul dengan banyak orang secara intim.

Ada satu momen yang masih gue inget ketika gue masih kecil. Ketika gue entah lagi ngapain di meja makan, umi bilang “jang kok di rumah aja? main dong keluar sama temen-temennya”. Di kala mungkin kebanyakan orang tua minta anaknya jangan sering-sering main keluar, beda dengan umi. Dia selalu ngajak kita buat keluar, ngobrol dan main dengan tetangga.

Selain itu, umi juga jadi nenek yang gabolehin kita buat “dikit-dikit ga masuk sekolah dan gak ngaji”. Kalo masih sakitnya masih kayak demam sedikit, kita tetep dipaksa buat sekolah atau ngaji. Dalam urusan pengajian, umi selalu jadi orang yang “getol” untuk cariin guru ngaji buat para cucu-cucunya. Kalau setiap bulan ramadhan, setelah sholat subuh, umi selalu duduk dan baca al-qur’an ukuran besar dengan kacamata bacanya. Dan di setiap mau maghrib, umi selalu minta nyokap buat nyiapin makanan buat orang mesjid buka puasa. Mungkin karena sifat murah tangannya umi, alhamdulillah Allah selalu memberikan umi rejeki yang berkah.

Tinggal di rumah sebagai orang yang paling tua, umi bisa dibilang jadi kepala keluarga kita. Walaupun orangnya cerewet dan suka marah-marah, tapi dia ga pernah marahin orang dari hatinya. Dia tipikal orang yang marah kalo kita males, marah kalo ada anaknya dia yang galak dengan cucunya, tapi bukan tipikal orang pemarah, yang dendam dari hatinya, yang sedikit-dikit marah. Umi juga jadi salah satu benteng kita, ketika kita diomelin sama orang tua kita pada saat kecil.

Dari segi finansial, gue waktu kecil sih gak tau kerjaan umi apa. Tapi di otak gue “wah umi orang kaya yah”. Karena ngeliat dia selalu kasih apapun buat anak cucunya, begitu pula dengan tetangga dan kerabat dekatnya. Ternyata umi waktu mudanya jadi pedagang emas. Bukan dia yang punya tokonya. Tapi dia kerja dengan teman baiknya yang punya toko emas itu. Di usianya yang udah gak produktif (enggak kerja), umi masih tetep bisa ngasih anak cucunya (yang gak sedikit ini) makan makanan enak di rumah. Entah uangnya dari mana aja.

Kalo dipikir-pikir, di keluarga gue gak ada “orang penting” dalam artian entah pejabat, atau pengusaha sukses, orang terkenal dan semacamnya. Tapi, punya Sa’diah Bawazir sebagai nenek, menjadi salah satu hal yang membanggakan dari hidup gue. Kalau dulu, setiap ketemu orang (mostly orang arab) dan pada nanya “nizar anaknya siapa?”. Instead of jawab nama bokap atau nyokap, gue selalu dengan PDnya bilang “cucunya sa’diyah bawazir”. Dan 98% orang biasanya langsung “Ooooooh, cucunya sa’diyah”. Karena emang umi cukup dikenal banyak orang (khususnya jamaah).

Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita berasal. Menjadi cucu dari Sa’diyah Bawazir merupakan salah satu nikmat dunia yang harus disyukurin. Terima kasih ya Allah untuk memberukan sosok nenek terbaik dalam kehidupan hamba. Sekang umi sudah (insya Allah) di tempat yang terbaik di sisi Allah, semoga kita sekeluarga bisa menyusul umi, meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan dikumpulkan sekeluarga dalam surganya Allah S.W.T. Amin amin ya robbal alamin…..

Umi

Umi, saat kawinan Iyus. Oktober 2010

Footer Nizarland

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enter your keyword